KitaLidik.com | Kabanjahe : Kabar dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan pelajar di Kabupaten Karo memunculkan kekhawatiran baru di lingkungan sekolah. Sejumlah siswa sekolah dasar (SD) di Kabanjahe diketahui tidak menyentuh makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka terima pada Jumat (14/8/2026).
Temuan tersebut terlihat sehari setelah insiden yang dialami pelajar SMAN 1 Kabanjahe dan Yayasan Perguruan Bersama Berastagi. Sebanyak 253 pelajar dilaporkan harus mendapatkan penanganan medis di rumah sakit dan puskesmas setelah mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan MBG pada Kamis (13/8/2026).
Pantauan wartawan di sejumlah sekolah dasar di Kabanjahe menunjukkan sebagian makanan yang telah dibagikan kepada siswa masih dalam kondisi tidak tersentuh. Makanan tersebut tampak dikumpulkan dalam ember maupun wadah makanan setelah tidak dikonsumsi.
Seorang guru yang ditemui di salah satu SD negeri di Kabanjahe mengatakan pihak sekolah tidak ingin memaksakan siswa untuk menyantap makanan tersebut. Menurutnya, keputusan itu diambil karena kondisi psikologis siswa dan kekhawatiran orang tua perlu diperhatikan.
“Anak-anak tidak mau makan. Kami juga tidak berani memaksa mereka. Ini menjadi perhatian kami karena kejadian yang terjadi sehari sebelumnya cukup membuat khawatir,” kata guru tersebut.
Ia mengatakan, pihak sekolah telah membicarakan persoalan itu bersama kepala sekolah. Sekolah ingin mengetahui penyebab siswa menolak makanan sekaligus menentukan langkah yang paling tepat agar situasi tidak berkembang menjadi kekhawatiran yang lebih besar.
Ada kemungkinan siswa mengetahui informasi mengenai dugaan keracunan yang dialami pelajar tingkat SMA di Berastagi sehingga merasa takut mengonsumsi makanan MBG. Namun, hal tersebut masih sebatas dugaan dan belum dapat dipastikan.
Kemungkinan lain, siswa tidak menyantap makanan karena adanya pesan atau imbauan dari orang tua agar lebih berhati-hati setelah muncul kabar mengenai kejadian tersebut.
Sementara itu, konfirmasi kepada kepala sekolah mengenai kondisi tersebut, termasuk terkait pemasukan dan distribusi makanan MBG dari SPPG ke sekolah, belum berhasil diperoleh. Saat wartawan mendatangi sekolah, kepala sekolah sudah meninggalkan lokasi karena jam kegiatan belajar telah selesai.
Pihak sekolah diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai langkah yang akan dilakukan menyusul adanya siswa yang tidak mengonsumsi makanan MBG. Kejelasan informasi juga dinilai penting untuk menjaga rasa aman siswa, guru, dan orang tua.
Tim Jurnalis akan terus memantau perkembangan persoalan tersebut, termasuk meminta keterangan dari pihak sekolah dan pengelola SPPG terkait mekanisme distribusi serta kondisi makanan MBG yang tidak dikonsumsi siswa.





