Wamen Transmigrasi Viva Yoga Lepas TEP 2026, Revitalisasi Kawasan Transmigrasi Berbasis Ilmu dan Teknologi

by

Kitalidik.com | Jakarta : Wakil Menteri Transmigrasi (Wamen Transmigrasi) Viva Yoga Mauladi menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat revitalisasi kawasan transmigrasi melalui kolaborasi lintas kementerian dan dukungan kalangan akademisi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjawab berbagai persoalan yang masih dihadapi kawasan transmigrasi, mulai dari infrastruktur hingga penguatan ekonomi masyarakat.

 

Hal itu disampaikan Viva Yoga usai menghadiri pelepasan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

 

Menurutnya, program transmigrasi yang telah berjalan selama puluhan tahun masih menyisakan berbagai tantangan, terutama terkait pembangunan infrastruktur dasar. Karena itu, Kementerian Transmigrasi pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengusung pendekatan baru melalui sinergi dengan berbagai kementerian dan lembaga.

 

“Setiap persoalan akan diselesaikan sesuai kewenangan masing-masing kementerian. Jika sekolah membutuhkan perbaikan, kami berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan. Jika petani memerlukan alat dan sarana produksi, kami bersinergi dengan Kementerian Pertanian. Begitu juga pembangunan jalan akan dikoordinasikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum,” ujar Viva Yoga.

 

Ia menilai kolaborasi antarkementerian akan membuat pembangunan kawasan transmigrasi berlangsung lebih cepat, efektif, dan tepat sasaran.

 

Dalam kegiatan pembekalan TEP 2026, sejumlah pejabat negara turut memberikan materi, di antaranya Menko Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Kepala BRIN Arif Satria, serta pejabat dari berbagai kementerian dan lembaga lainnya.

 

Selain pembangunan fisik, Viva Yoga menekankan pentingnya pengembangan inovasi dan teknologi dalam mengelola potensi sumber daya alam di kawasan transmigrasi.

 

Menurutnya, berbagai komoditas unggulan seperti kopi, kakao, sawit, durian, dan hasil pertanian lainnya akan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila didukung tata kelola yang baik, mulai dari budidaya, produksi, pascapanen hingga pemasaran.

 

“Aspirasi kritis dari para peserta, termasuk mahasiswa, kami terima sebagai masukan untuk memperbaiki pembangunan kawasan transmigrasi,” katanya.

 

Untuk mendukung transformasi tersebut, Kementerian Transmigrasi menggandeng 10 perguruan tinggi ternama di Indonesia, yakni UI, IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, UGM, Universitas Diponegoro, ITS, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.

 

TEP 2026 merupakan kelanjutan dari program tahun sebelumnya dengan melibatkan 1.476 peserta yang terdiri atas guru besar, doktor, magister, hingga sarjana. Mereka akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di berbagai wilayah Indonesia guna menindaklanjuti hasil riset TEP 2025 melalui implementasi program di lapangan.

 

Pemerintah berharap kehadiran TEP 2026 mampu mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kualitas sumber daya manusia, mengurangi angka kemiskinan, serta menekan prevalensi stunting di daerah transmigrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *